Minggu, 03 Februari 2013

Green Arsitektur dengan Rumah Bambu

Green Arsitektur dengan Rumah Bambu

Mungkin bagi orang Indonesia bambu sering dipandang sebelah mata. Bambu di anggap materialnya “wong kere”. Bahan bangunan bagi orang yang tidak mampu membeli batu bata, semen, genteng dan lain-lain yang relatif mahal. Orang melihat bahan baku rumah adalah menunjukkan status sosial seseorang dan mungkin gengsi seseorang. Maka hanya orang miskinlah yang dianggap yang mampu membeli bambu dan hanya mampu mewujudkan desain rumah bambu saja. Kalo menurut para ahli asing berpendapat bahwa bambu merupakan material masa depan yang berpotensi menggantikan kayu karena makin menipisnya hutan tropis yang merupakan penghasil kayu yang utama untuk saat ini.

Jika kita perhatikan, ada beberapa macam alasan dan keuntungan yang membuat kita harus meyakini bahwa desain rumah bambu ternyata desain rumah terbaik untuk kediaman manusia.

1. Desain rumah bambu memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Lihatlah bangunan-bangunan gazebo yang dibangun secara alami ditempat-tempat wisata, mushala serta tempat-tempat persinggahan yang cukup nyaman untuk dikunjungi. Bahkan bangunan rumah tinggal pun yangb terbuat dari bambu bisa dirancang lebih estetis dan natural menawan.

2. Desain rumah bambu termasuk pada desain rumah tahan gempa sebab anyaman bambu tak akan mudah roboh sebagaimana bangunan batu. Jika pun Anda kejatuhan dinding bambu, akibatnya tentu tidak akan seburuk jika Anda tertimpa batu-batu rumah gedung.

3. Rumah bambu lebih nyaman, dingin dan tak memerlukan perawatan yang mahal. Rumah bambun tak membutuhkan AC karena kesejukan alami akan datang menyusup ke sela-sela dinding rumah.

4. Desain rumah bambu dengan pengelolaan ketahanan yang benar, dapat bertahan selama 20 tahun.

5. Desain rumah bambu menjaga pemiliknya dari rasa sombong dan angkuh dari kekayaan rumah, namun juga tak perlu membuat minder para pemiliknya, karena dengan pola desain rumah bambu yang unik dan kreatif, bisa jadi rumah bambu menjadi perhatian setiap orang.

Di siang hari, pori-pori alami bambu mampu melepaskan udara dingin yang disimpannya pada malam hari. Hasilnya, siang hari di dalam rumah tetap terasa sejuk. Sebaliknya di malam hari, pori-pori mampu melepaskan panas yang ditabungnya pada siang hari. Alhasil, Anda akan menghabiskan malam di dalam rumah terasa lebih hangat. Selain bernilai artistik, alasan penggunaan rumah bambu sebagai material bangunan memang atas dua hal tersebut. Bambu mampu meredam panasnya matahari siang, sebaliknya menghangatkan rumah di dinginnya malam. Tidak heran, dengan cungkupan udara dingin yang menyelimuti kawasan Puncak - Cianjur, Jawa Barat, banyak bangunan vila memakai bambu sebagai material bangunan bahkan interiornya. Meski tidak seratus persen mendominasi semua sudut bangunan, beberapa restoran tradisional sunda pun banyak menggunakan konsep bambu sebagai daya tariknya. Bagi Anda yang tertarik dengan konsep rumah bambu ini tentu tidak sulit memilih. Model rumah bambu terbilang variasi, mulai rumah bambu berarsitektur tradisional, modern standar, serta semi permanen. Berdasarkan variasi tersebut, penggunaan bambu bisa begitu dominan, separuh, atau sekadar pemanis di beberapa sudut bagian tertentu.

Tradisional

Penggunaan bambu pada konsep rumah tradisional bisa merambah di semua lini, mulai struktur, dinding, plafon, lantai, hingga perabot. Ciri khas konsep tradisional ini menggunakan atap bambu dan berbentuk rumah panggung. Untuk dinding, konsep bangunan ini menggunakan anyaman bambu yang dibuat hingga beberapa lapis. Hal itu akan membuat dinding cukup rapat untuk ditembus debu dan udara. Pada setiap sambungan pondasi, para perajin bambu biasanya menggunakan ijuk sebagai pengikat paling tepat. Namun untuk sambungan pada bilah-bilah bambu yang tidak berfungsi sebagai struktur, jodoh bambu bukanlah ijuk, melainkan rotan karena tampilannya yang lebih artistik. Isi bangunan juga kerap didominasi oleh bambu. Kursi atau sofa di ruang keluarga misalnya, bisa diambil dari susunan bambu dengan berdiameter agak besar. Partisi atau pemisah satu ruang dengan ruang lainnya juga bisa memakai bambu hitam. Dengan warna yang gelap, partisi ini tampak kontras setelah diikat dengan rotan warna yang lebih terang, seperti krem atau kuning keemasan.

Modern Standar

Sementara itu, ciri rumah bambu standar menggunakan atap genteng dan berlantai keramik. Pondasi bambu tidak di bawah dan ditutupi keramik, melainkan berdiri di atas keramik dengan pondasi kaki dibungkus semen. Desain standar ini banyak diadopsi oleh kafe atau restoran di Jakarta atau Bandung. Seolah membuat rumah dalam rumah, kadang konsep ini diolah berbentuk seperti gazebo untuk jadikan ruang tersendiri di dalam restoran.

Semi Permanen

Lain halnya dengan rumah bambu semi permanen. Tembok bagian bawahnya bisa memakai batu bata, batako, atau batu kali dengan tinggi mencapai satu meter. Banyak restoran sunda di Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat juga memakai konsep ini sebagai daya tarik bangunannya.


0 komentar: